Share

Ojo Dadi Wong Sing Loyo Mergo Poso

DISIPLIN: Secara harfiah, puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan sebuah latihan disiplin dan determinasi. artngalam.id

Ramadhan: Bukan Alasan “Glemetan”, Saatnya Upgrade Diri secara Total

artngalam.id-Memasuki bulan suci Ramadhan, sering kali muncul stigma bahwa berpuasa adalah sinonim dari menurunnya produktivitas. Rasa kantuk dan lemas dianggap sebagai hambatan. Padahal, jika kita telaah melalui kacamata medis dan psikologis, Ramadhan adalah momentum emas untuk melakukan restorasi diri, baik secara fisik maupun mental.

Secara harfiah, puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan sebuah latihan disiplin dan determinasi. Bagi para pelajar dan pekerja, bulan ini adalah ujian untuk membuktikan bahwa kualitas kerja tidak ditentukan oleh asupan kalori semata, melainkan oleh kekuatan niat dan manajemen waktu yang presisi.

1. Produktivitas yang Berintegritas

Dalam KBBI, produktif berarti mampu menghasilkan sesuatu secara teratur. Puasa melatih kita untuk tidak sembrono. Dengan jadwal sahur dan buka yang tetap, ritme sirkadian tubuh justru bisa diatur lebih apik. Jangan sampai kita jadi golongan yang “Lemu dulinan, gering makaryo” (Semangat bermain, tapi lemas saat bekerja). Justru di bulan ini, fokus kita harus lebih tajam karena gangguan makan siang tereliminasi.

2. Belajar dengan Pikiran yang Jernih

Bagi anak muda, Ramadhan adalah waktu terbaik untuk “ngasah akal”. Saat perut tidak sibuk mencerna makanan berat, aliran darah ke otak menjadi lebih stabil. Jangan jadi anak muda yang “Mumpung poso, dadi kaum rebahan total”. Itu pemikiran yang keliru. Ilmu yang diserap saat berpuasa sering kali lebih mengendap karena kita berada dalam kondisi spiritual yang tenang.

3. Filosofi “Gak Kakehan Cangkriman”

Masyarakat Jawa Timur mengenal karakter yang blakasuta (apa adanya). Menjalani puasa harusnya seperti itu: dijalani dengan mantap tanpa perlu banyak mengeluh.

“Poso iku dudu alesan gawe males-malesan. Nek awakmu mung turu wae, yo opo bedane karo guling?” (Puasa itu bukan alasan untuk bermalas-malasan. Kalau kamu hanya tidur saja, lalu apa bedanya dengan guling?)

4. Mengelola Emosi dan Fokus

Puasa mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang kompeten dalam mengendalikan amarah. Di dunia kerja yang penuh tekanan, kemampuan menjaga kepala tetap dingin adalah aset yang mahal. Ini adalah bentuk self-improvement yang tidak diajarkan di kursus manapun.

Selanjutnya yang terpenting dalam Ramadhan adalah fase transformasi. Mari kita ubah pola pikir dari “bertahan hidup” menjadi “berkarya lebih hebat”. Jangan sampai ibadah kita hanya menghasilkan lapar, sementara urusan duniawi kita terbengkalai.

“Ojo dadi wong sing loyo mergo poso, tapi dadio wong sing perkoso mergo dongo lan makaryo.” (Jangan jadi orang yang lemah karena puasa, tapi jadilah orang yang tangguh karena doa dan kerja nyata).(artngalam.id)