ARTNGALAM.ID, MALANG-Selama tiga dekade menjadi saksi pasang surutnya kebudayaan di Malang Raya, saya selalu meyakini satu hal, desa adalah benteng terakhir yang menjaga jiwa Nusantara. Keyakinan itu kembali terbukti nyata di Dusun Gedangan, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Sepanjang sepekan penuh, mulai 5 hingga 11 Juli 2026, wilayah ini semarak oleh gelaran Festival Kampoeng Dilem 9 (Kasanga). Berpusat di Gang Dilem Gondowangi, acara bersih desa tahunan ini bukan sekadar rutinitas kalender, melainkan sebuah ruang sakral yang memadukan pelestarian tradisi, kebangkitan ekonomi, dan indahnya toleransi beragama.
Festival yang menjadi magnet bagi ribuan warga ini dibuka langsung oleh Kepala Desa Gondowangi, Danis Setyabudi Nugroho. Sosok pemimpin muda yang dikenal progresif dalam menggerakkan roda ekonomi lewat BUMDes serta peduli lingkungan ini menyampaikan pesan mendalam tentang esensi “Ruang Rindu” dalam sambutannya.

“Tidak terasa sekarang sudah sampai Kasanga, yang artinya festival ini sudah berjalan selama sembilan tahun. Kali ini mengangkat tema ‘Kaping Sanga, Nyawiji Rasa Lumantar Budaya’, semoga kegiatan ini selalu punya tempat rindu buat semua masyarakat, yaitu Ruang Rindu akan gelaran Festival Kampung Dilem,” ungkap Kades Danis dengan nada bijak. Beliau juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih mendalam kepada seluruh pihak yang telah gotong royong menyukseskan acara ini.
Setiap malamnya, tepat mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai, Gang Dilem disulap menjadi panggung akbar lintas ekspresi. Warga disuguhkan beragam pertunjukan kelas atas yang memikat. Mulai dari keanggunan Tari Nusantara dari Sanggar Tari Sekar Dilem dan Sanggar Maheswari, alunan Campursari Shaba Nada, hingga tawa lepas legendaris lewat Ludruk Budaya bersama Cak Kartolo CS. Tidak kalah memukau, kolaborasi modern-tradisional bertajuk Saling Silang Bunyi menampilkan band reggae Tropical Forest bersama Arca Tatasawara, disusul gagahnya Reog Sardulo Djojo, dan ditutup dengan magisnya pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Tantut Sutanto (Lintang Kairo).
Di luar urusan seni, Festival Kampoeng Dilem 9 ini menjadi bukti nyata kekuatan ekonomi akar rumput melalui deretan Bazar Kuliner dan Gelar UMKM lokal yang mandiri. Nuansa kerukunan umat beragama pun terasa sangat kental, salah satunya melalui acara Pengajian Umum yang menghadirkan Kyai Sableng (Abdullah SAM) serta lantunan sholawat yang menyejukkan hati. Sembilan tahun berjalan, Festival Kampoeng Dilem telah sukses membuktikan bahwa budaya bukanlah masa lalu yang usang, melainkan jembatan hidup yang menyatukan rasa, menghidupkan ekonomi, dan selalu dirindukan oleh warganya.(artngalam.id)