Share

Gus Dur dan Seni Merayakan Keberagaman, Lebih dari Sekadar Toleransi

Gus Dur
Gus Dur

Bukti nyata dari ketulusan nyata Gus Dur adalah keputusannya mencabut larangan perayaan Tahun Baru Imlek, yang kemudian mengukuhkan dirinya sebagai Bapak Pluralisme sekaligus Bapak Tionghoa Indonesia. Beliau memahami bahwa budaya dan identitas adalah bagian dari kekayaan bangsa Indonesia yang tidak boleh dipasung. Dengan langkah berani ini, Gus Dur menunjukkan bahwa negara hadir untuk melindungi hak setiap warga negara tanpa memandang latar belakang etnis maupun keyakinannya.

Uniknya, Gus Dur selalu menggunakan humor khas untuk mencairkan ketegangan antarumat beragama. Beliau percaya bahwa candaan bisa menjadi jembatan komunikasi yang paling efektif.

Salah satu pemikirannya yang paling ikonik adalah kalimat, “Tuhan tidak perlu dibela, Dia sudah Maha Segalanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil.” Pesan ini merupakan sentilan halus bagi siapa saja yang sering merasa paling benar dan suka menghakimi orang lain atas nama agama, padahal esensi agama adalah kasih sayang.

Selain isu agama, kritik sosial Gus Dur pun disampaikan dengan gaya yang jenaka namun menohok. Siapa yang tidak ingat guyonannya tentang “Tiga polisi jujur di Indonesia: patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng”? Melalui tawa, Gus Dur mengajak kita untuk berpikiran sehat, tidak tegang, dan tetap kritis terhadap realitas sosial. Humor baginya bukan sekadar hiburan, melainkan alat perjuangan untuk kemanusiaan yang melampaui batas suku, ras, maupun warna kulit.

Pada akhirnya, warisan terbesar Gus Dur adalah kesadaran bahwa perbedaan bukanlah masalah, melainkan kekayaan bangsa yang harus dirawat bersama. Beliau mengajarkan kita bahwa menjadi religius berarti menjadi manusia yang peduli pada keadilan. Mari kita teruskan semangat ini dengan menjaga harmoni di lingkungan sekitar kita. Sebab, seperti kata Gus Dur, ketika kita berbuat baik, orang tidak akan bertanya apa agamamu.(ARTNGALAM.ID)

Penulis Utiatur Rohmah, S.Kom/Kolumnis ARTNGALAM.ID