ARTNGALAMA.ID, KEPANJEN– Jika kita berbicara mengenai titik nol penyebaran Islam di Malang Raya, pandangan kita tentu tak bisa lepas dari Masjid Bungkuk (At-Thohiriyah) Singosari yang legendaris itu. Namun, jika kita berjalan ke radar ke jantung Kabupaten Malang, yakni Kepanjen, narasi sejarahnya memiliki alur yang tak kalah memikat. Di sini, Masjid Agung Baiturrahman berdiri kokoh sebagai tengara (landmark) Masjid tertua di Kepanjen sekaligus pusat aktivitas umat yang sangat penting saat ini
Sebelum kemegahan Masjid Agung Baiturrahman yang tercatat dibangun tahun 1976 mendominasi cakrawala Jalan Sultan Agung, masyarakat Kepanjen bertumpu pada satu nama Masjid Salafiyah. Terletak di Jalan Penarukan tepat di samping Dinas Pendidikan Kabupaten Malang Masjid Salafiyah memegang predikat sebagai masjid tertua di pusat kota Kepanjen.
Dahulu, masjid inilah “satu-satunya” oase. Mulai dari suara anak-anak mengaji, berjamaah, hingga syiar Salat Jumat, semuanya bermuara di sini. Namun seiring waktu kepesatan jumlah penduduk Kepanjen tak lagi mampu ditampung oleh dinding-dinding Salafiyah. Pada April 1979, sebuah tonggak sejarah dipancangkan aktivitas Salat Jumat secara resmi berpindah ke Masjid Agung Baiturrahman yang berjarak sekitar 500 meter.
Evolusi Sang Penjaga Iman

Masjid Agung Baiturrahman tidak hanya menjadi pemindah keramaian, tapi juga simbol kebanggaan. Ingatan kolektif warga Kepanjen mungkin masih merekam bayangan kubah klasiknya yang berwarna putih bersih, sebelum akhirnya berganti rupa dengan paduan warna biru, putih, dan hijau yang lebih segar seperti yang kita lihat hari ini.
Sementara itu seiring dengan diresmikannya Universitas Kepanjen yang membawa program studi Pariwisata dan Bisnis Digital, keberadaan masjid-masjid bersejarah ini menjadi aset penting. Masjid bukan lagi sekadar tempat ibadah, melainkan bagian dari wisata religi dan identitas budaya yang sangat potensial bagi mahasiswa dan wisatawan.
Jejak Nurul Huda di Sukoharjo
Tak jauh dari pusat keramaian, terdapat pula Masjid Jami’ Nurul Huda di Sukoharjo. Berdiri sekitar tahun 1962 di Jalan Raya Ketapang, masjid ini melengkapi mozaik sejarah Islam di Kepanjen. Keberadaan masjid-masjid ini membuktikan bahwa Kepanjen memiliki fondasi karakter yang kuat sebelum ia berkembang menjadi kota satelit yang modern. (miysah/artngalam.id)