Dunia TikTok lagi ramai, nih. Kali ini giliran kreator dengan username @caeinmotion yang jadi pusat perhatian netizen, terutama warga Ngalam. Gara-garanya? Sebuah konten yang menyebut Malang Town Square (Matos) sebagai “mal terkecil di dunia” dan melabeli Malang sebagai “desa”.
Wah, langsung auto-ramai deh kolom komentarnya! Yuk, kita bedah kenapa hal ini bisa jadi pelajaran penting buat kita semua.
Kronologi yang Bikin “Salfo”
Awalnya, @caeinmotion mengunggah video saat berkunjung ke Matos. Dengan gaya santai, dia berujar, “Kalian tahu nggak aku di mana sekarang, aku lagi ada di mal terkecil di dunia yaitu Matos. Eh maaf ya nggak bermaksud ya soalnya biasanya aku ke Pakuwon.”
Nggak berhenti di situ, dia juga menyebut Malang dengan sebutan desa yang syahdu sambil bertanya rekomendasi makanan enak. Sontak, pernyataan ini memicu reaksi keras dari warga Malang, termasuk selebgram populer Aghnia Punjabi https://www.instagram.com/emyaghnia/?hl=en. Bagi banyak orang, membandingkan Matos dengan Pakuwon Mall di Surabaya itu ibarat comparing apple to orange nggak apple to apple, rek!
Klarifikasi: “Pure Bercanda, No Hard Feelings”
Setelah videonya viral dan memancing “reog” netizen, @caeinmotion akhirnya angkat bicara. Dia menegaskan kalau konten tersebut cuma bercandaan internal sama temannya saja.
“Di video itu aku pure lagi bercanda sama temenku aja, no hard feelings at all,” pungkasnya.
Dia menyadari kalau jokes tersebut bisa disalahartikan dan bikin banyak pihak nggak nyaman. Akhirnya, permintaan maaf pun meluncur, dibarengi janji untuk lebih hati-hati lagi sebelum posting konten ke depannya.
Kenapa Netizen “Sakit Hati”?
Bagi Generasi Muda di Malang, Matos itu punya nilai historis dan vibe tersendiri. Meskipun secara luas bangunan nggak sebesar mal metropolitan di Surabaya, Matos tetap jadi jujugan favorit mahasiswa dan warga lokal.
Surabaya memang kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia dengan gedung pencakar langitnya. Tapi bagi orang Surabaya sendiri, Malang adalah “rumah” untuk melarikan diri dari penat. Malang punya hawa sejuk dan suasana alam yang nggak dimiliki kota besar. Menyebut Malang sebagai “desa” dalam konteks merendahkan tentu saja bikin pride warga lokal terusik.
Self-Reminder Buat Kita Semua
Digital Footprint itu Nyata: Apa yang kita anggap lucu bareng teman, belum tentu lucu bagi ribuan orang yang menonton di layar ponsel mereka. Setiap Konteks itu Penting: Bercanda soal fasilitas kota atau daerah lain itu sensitif. Kita perlu paham local pride orang-orang di sana. Hargai Proses: Nasi sudah jadi bubur, tapi permintaan maaf adalah langkah awal yang baik. Semoga ini jadi pelajaran buat semua kreator untuk lebih riset dan bijak sebelum menekan tombol upload.
Ingat ya, guys, keren itu bukan soal sering main ke mal mewah, tapi soal gimana kita bisa menghargai setiap sudut kota yang punya cerita uniknya masing-masing.
Malang tetep syahdu, Malang Suantai Sayang!
(shona/artngalam.id)