Share

Membumikan Langit Toleransi: Menjemput Warisan Adiluhung di Tanah Nusantara

Masjid Muhammad Cheng Hoo
Ilustrasi Vector Masjid Muhammad Cheng Hoo Gua China di Desa Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. (artngalam.id)

Gus Dur mengajarkan kita tentang Pribumisasi Islam sebuah upaya kontekstualisasi agama agar ia menyatu dengan napas budaya lokal tanpa kehilangan esensinya. Ia menolak penyeragaman, karena baginya, Tuhan tidak perlu dibela dengan cara memberangus keberagaman. Di Nusantara, toleransi bukan sekadar kata sifat, melainkan warisan adiluhung yang sudah mendarah daging.

“Islam datang bukan untuk mengubah budaya kita menjadi budaya Arab. Kita punya jati diri sendiri,” begitu seloroh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang selalu terngiang. Bagi Sang Guru Bangsa, kebudayaan bukanlah sekadar ornamen atau tontonan di panggung tujuh belasan. Kebudayaan adalah seni mengatur hidup, sebuah jembatan yang menghubungkan jurang perbedaan atas nama kemanusiaan.

Jejak Siwa-Buddha dan Harmoni yang Tak Lekang

Jika kita menengok ke belakang, Candi Singosari di Malang adalah saksi bisu betapa leluhur kita sudah melampaui sekat dogmatis. Aliran Siwa-Buddha yang tecermin di sana membuktikan bahwa sinkretisme dan harmoni spiritual adalah fondasi dasar peradaban kita. Ini adalah bukti fisik bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi penciptaan karya seni yang agung.

Semangat ini terus bernapas hingga hari ini di berbagai jejak di Kabupaten Malang, sebuah tempat ibadah atau toleransi yang nyata:

  • Pesarean Gunung Kawi: Di sini, batas-batas identitas seolah melebur. Muslim, Tionghoa (Konghucu/Buddha), hingga umat Hindu bersimpuh di ruang yang sama. Ini bukan sekadar wisata religi, melainkan ruang perjumpaan batin yang membuktikan bahwa rasa hormat adalah bahasa universal.
  • Masjid Tiban Turen: Berdiri megah di Desa Sananrejo, arsitekturnya yang eklektik perpaduan Timur Tengah, Turki, hingga India menegaskan bahwa keindahan lahir dari keberanian untuk bercampur. Masjid ini terbuka bagi siapa saja, menjadi simbol keterbukaan hati masyarakat pedesaan.
  • Dusun Jamuran: Dijuluki “Kampung Damai”, dusun ini adalah manifestasi dari apa yang diimpikan Gus Dur. Di sini, toleransi bukan lagi teori di buku sekolah, melainkan praktik sehari-hari dalam bertegur sapa dan gotong royong antar pemeluk agama yang berbeda.

Simbol Kolaborasi Lintas Komunitas

Bergerak ke arah Jalur Lintas Selatan (JLS), kita akan menemukan permata baru: Masjid Muhammad Cheng Hoo Gua China di Desa Sitiarjo. Kehadiran masjid ini sangat puitis. Dibangun dengan gaya arsitektur Tionghoa yang khas, ia berdiri di sebuah desa yang mayoritas penduduknya memiliki latar belakang budaya dan keyakinan yang beragam.

Masjid ini bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan monumen kolaborasi. Dukungan dari Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI) dan PITI menunjukkan bahwa identitas Tionghoa dan Islam dapat berkelindan mesra, memperkaya khazanah budaya lokal tanpa harus saling meniadakan.

Kebudayaan yang Memanusiakan

Gus Dur selalu menekankan bahwa kebudayaan harus mendahulukan kemanusiaan. Ketika kita menghargai Candi Singosari, berziarah ke Gunung Kawi, atau mengagumi Masjid Cheng Hoo, kita sebenarnya sedang merayakan kemanusiaan itu sendiri.

Di tengah gempuran polarisasi dan politik identitas yang kerap memecah belah, warisan-warisan di Malang Raya ini adalah pengingat: Indonesia kuat bukan karena seragam, tapi karena kita mampu menenun perbedaan menjadi permadani indah bernama toleransi. Menjadi Indonesia berarti berani menerima yang “Lain” sebagai bagian dari “Kita”.(ARTNGALAM.ID)

Penulis Utiatur Rohmah, S.Kom/Kolumnis ARTNGALAM.ID