Membendung Asa di Pasar Joyo Agung Melalui Narasi Air Mahasiswa Teknik Pengairan
ARTNGLAM.ID, MALANG – Di tangan para mahasiswa Fakultas Teknik Pengairan Universitas Brawijaya, air tidak lagi sekadar urusan debit dan irigasi, melainkan sumber inspirasi yang tak bertepi. Melalui perhelatan Triaksara Art Fair 2026, elemen tersebut menjelma menjadi bahasa rasa yang membendung asa. Ruang pameran di Pasar Joyo Agung ini bukan sekadar deretan karya diam, melainkan jembatan artistik yang mempertemukan gagasan teknis, pengalaman batin, dan realitas kehidupan dalam satu wadah apresiasi yang menyentuh.
Tahun ini, Triaksara hadir dengan tema yang sangat puitis namun sarat makna: “Jala Rasa Membendung Asa.” Ini bukanlah pilihan kata yang sembarang. Ia membingkai permasalahan dan siklus air sebagai refleksi mendalam atas kehidupan manusia yang terus berubah. Layaknya aliran sungai yang mempertemukan berbagai arah, karya seni di sini menjadi medium untuk menyingkap kembali makna di balik perjalanan air dari sumbernya yang jernih hingga tantangan yang ia hadapi dalam membendung setiap harapan.
Panitia penyelenggara memiliki filosofi yang sangat kuat dalam mengawal pameran ini. Sebagaimana yang mereka ungkapkan: “Setiap karya adalah arus, setiap ide adalah perjalanan. Biarkan rasa berputar kembali, dan temukan cara baru untuk mengalirkannya.”
Kalimat ini menegaskan bahwa seni bagi mereka bukanlah sebuah garis finish, melainkan sebuah proses yang terus mengalir dan bermuara pada pemahaman baru.
Ruang Ekspresi di Pasar Joyo Agung, Kota Malang
Menariknya, Triaksara memilih lokasi yang membumi namun sangat hidup: Pasar Joyo Agung. Pilihan tempat ini seolah ingin menegaskan bahwa seni tidak harus eksklusif di galeri mewah, melainkan harus mengalir dan menyentuh masyarakat luas secara langsung.
Bagi Nawak Ngalam yang ingin merasakan sensasi berbeda dalam menikmati seni, catat agendanya:
- Pameran Terbuka: 17 – 19 April 2026
- Lokasi: Pasar Joyo Agung, Jl. Joyo Agung No.184, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang.
Pameran ini terbuka untuk masyarakat umum. Ini adalah kesempatan emas bagi warga Malang Raya mulai dari akademisi, seniman, hingga penikmat kopi yang sedang bersantai di kawasan Merjosari untuk melihat bagaimana “Asa” dibendung dan dialirkan melalui kreativitas mahasiswa teknik.(shona/artngalam.id)