ARTNGALAM.ID – Di balik kemegahan arsitektur modern yang kini berdiri di Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, tersimpan sebuah narasi besar tentang perlawanan, pelarian, dan penyebaran keyakinan. Masjid At-Thohiriyah, atau yang lebih karib di telinga masyarakat sebagai Masjid Bungkuk, bukan sekadar tempat sujud. Ia adalah prasasti hidup masjid tertua di Malang Raya yang menjadi hulu dari derasnya arus syiar Islam di wilayah ini sejak abad ke-18.
Eksodus Prajurit Diponegoro
Sejarah masjid ini tidak bisa dilepaskan dari kemelut Perang Jawa (1825-1830). Pasca penangkapan Pangeran Diponegoro, para prajuritnya menyebar ke arah timur untuk menghindari kejaran kolonial, sembari membawa misi dakwah. Salah satunya adalah seorang pemuda gagah berani bernama Hamimmuddin.
Sekitar tahun 1835, Hamimmuddin tiba di tlatah Singosari. Di sana, ia memulai langkah kecil dengan mendirikan sebuah musala sederhana berbahan bambu dan kayu. Niatnya tulus: mengajarkan salat dan mengaji kepada penduduk lokal. Tak disangka, musala kecil itu menjadi magnet spiritual yang kuat. Seiring bertambahnya pengikut, bangunan itu bertransformasi menjadi masjid dengan empat tiang jati yang kokoh.
Filosofi “Bungkuk” Sebuah Persinggungan Budaya
Nama “Bungkuk” sendiri menyimpan fragmen sosiologis yang unik. Kala itu, masyarakat Singosari mayoritas masih memeluk agama Hindu. Mereka kerap memperhatikan Hamimmuddin beserta murid-muridnya saat melakukan gerakan ruku dalam salat. Gerakan membungkuk ini merupakan pemandangan asing sekaligus mengagumkan bagi mereka.
Secara spontan, warga menyebut aktivitas tersebut sebagai “wong bungkuk” (orang yang membungkuk). Sebutan ini kemudian melekat erat, tidak hanya pada masjidnya, tetapi juga menjadi nama kawasan tersebut hingga hari ini. Hal ini membuktikan bahwa sejak awal, kehadiran Islam di Malang Raya masuk melalui pendekatan visual dan perilaku yang santun, hingga masyarakat memberikan identitasnya sendiri.
Empat Tiang Jati Saksi Bisu yang Abadi
Meski kini Masjid At-Thohiriyah telah mengalami berbagai renovasi dan tampak modern, ada satu bagian yang “haram” untuk diubah: empat tiang utama (saka guru) dari kayu jati. KH Moensif Nachrawi, selaku takmir sekaligus keturunan penyiar di sana, menegaskan bahwa empat tiang ini adalah peninggalan asli Hamimmuddin.
Tiang-tiang ini adalah penghubung batin antara jamaah masa kini dengan keringat perjuangan para pendahulu di tahun 1850-an. Di sisi barat masjid, jasad sang perintis, KH Hamimmuddin, beristirahat dengan tenang, berdampingan dengan menantunya, KH Thohir, sosok yang kelak mengukuhkan nama “At-Thohiriyah” dan membesarkan Pondok Pesantren Bungkuk.
Episentrum Pendidikan dan Budaya
Berdirinya gubuk-gubuk santri di sekitar masjid menjadi cikal bakal pesantren tertua di Malang. Dari sinilah, agama Islam menyebar ke seluruh penjuru Malang Raya. Bagi para akademisi dan pegiat sejarah di perguruan tinggi Malang, Masjid Bungkuk adalah objek riset yang tak habis digali nilai-nilainya. (miysah/artngalam.id)