ARTNGALAM.ID, MALANG-Di era di mana teknologi dan Artificial Intelligence (AI) mulai mendominasi kreativitas, kita seringkali lupa bahwa ada “algoritma” keindahan yang jauh lebih tua dan murni, yaitu gerak tari tradisi. Salah satu pengukir sejarah terbesar di Bumi Arema adalah Mbah Rasimun. Lahir di Dusun Glagahdowo, Tumpang, pada 15 Juni 1932, beliau bukan sekadar penari, melainkan sebuah “arsip hidup” yang menyelamatkan Tari Topeng Malangan dari jurang kepunahan.
Dedikasi Mbah Rasimun dimulai sejak usia dini, tepatnya saat ia masih berumur 8 tahun pada 1939. Sejak saat itu, seluruh napas hidupnya dibaktikan untuk karakter Gunungsari. Beliau dikenal dunia melalui ciri khas tarian “Alusan Gaya Gunungsarian” sebuah teknik gerak yang begitu lembut, halus, namun penuh wibawa. Momen ikonik terjadi pada tahun 1984 di Balai Pemuda Surabaya, di mana penampilannya yang unik dan memesona berhasil memukau para akademisi dan seniman lintas daerah.
Perjalanan Mbah Rasimun adalah bukti nyata bahwa seni (Art) dan ilmu pengetahuan (Science) bisa berkolaborasi secara organik. Meski belajar secara otodidak, intuisinya dalam menyungging (mengukir) topeng dan menata busana tari diakui secara akademis. Sinergi ini semakin kuat saat beliau berkolaborasi dengan Ki Soleh Adi Pramono dari Padepokan Seni Mangun Dharma. Perpaduan antara pengalaman empiris Mbah Rasimun dan pendekatan akademis Ki Soleh menciptakan standar baru dalam pengetahuan dan pengembangan tari topeng di Jawa Timur.
Sepanjang kariernya, Mbah Rasimun mengumpulkan deretan apresiasi dari berbagai institusi tinggi. Mulai dari penghargaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (SMKI Negeri Surabaya) pada 1987, penghargaan Gubernur Jawa Timur (2003), hingga pengakuan sebagai instruktur internasional oleh IPK Nadya Laksita Jogjakarta (2021). Tak hanya menari, beliau juga mendirikan Paguyuban Wayang Topeng, Sri Margo Utomo sebagai wadah bagi generasi muda untuk ngangsu kaweruh atau menimba ilmu seni.
Meski sang legenda telah berpulang pada tahun 2004, warisannya tidak berhenti menjadi sejarah yang membeku. Estetika Gunungsari yang beliau rintis kini dilanjutkan melalui Tari Topeng Grebeg Jawa di Sanggar Setyotomo, pimpinan Bapak Utomo. Di sinilah regenerasi terjadi, di mana anak-anak muda Malang tetap belajar mengenakan topeng, menggerakkan jemari, dan merawat identitas bangsa agar tidak tergilas oleh modernitas yang hampa jiwa. Bagi generasi saat ini, sosok Mbah Rasimun adalah inspirasi tentang passion yang tak lekang oleh waktu. Ia mengajarkan bahwa untuk menjadi relevan di masa depan, kita tidak boleh melupakan akar masa lalu. Seni tradisi adalah “database” budaya kita. Tanpa pelestarian yang dilakukan Mbah Rasimun, mungkin hari ini kita kehilangan salah satu identitas terindah dari tanah Malang. Seni adalah abadi, dan Mbah Rasimun adalah detak jantungnya.(artngalam.id)