ARTNGALAM.ID – Jika Anda berkunjung ke sudut mana pun di Malang Raya dan mendengar kata “Mbois”, Anda sedang mendengarkan sebuah sejarah panjang yang dibalik. Secara harfiah, Mbois adalah bahasa slang khas Malang yang berarti keren, gaya, atau mantap. Namun, bagi Nawak Ngalam (Kawan Malang), kata ini memiliki lapisan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar pujian visual.
Kode Gerilya dalam “Boso Walikan”
Secara etimologis, “Mbois” merupakan bagian dari Boso Walikan (Bahasa Kebalikan). Akar katanya diyakini berasal dari serapan bahasa Inggris boyish (bergaya laki-laki/maskulin) yang kemudian diserap menjadi “Siob”. Dalam tradisi unik Malang yang bermula sejak zaman perjuangan gerilya tahun 1949, kata tersebut dibalik menjadi Mbois.
Dahulu, bahasa ini adalah senjata rahasia untuk mengelabui musuh. Kini, ia menjadi identitas gaya hidup yang melambangkan kebanggaan akan prestasi dan penampilan yang fashionable.
Transformasi Menjadi Jargon Resmi “Mbois Ilakes”
Pemerintah Kota Malang (Pemkot) secara cerdas membawa bahasa jalanan ini ke ranah birokrasi yang inovatif. Jargon “Mbois Ilakes” (Keren Sekali) bukan sekadar slogan kosong. Kata tersebut merupakan akronim strategis dari:
Mandiri, Berbudaya, Optimis, Indah, Sejahtera, Inovatif, Lestari, Adaptif, Kolaboratif, Efisien, dan Sinergi.
Ini adalah bentuk adaptasi pemerintah yang ingin berbicara dalam frekuensi yang sama dengan rakyatnya, menyatukan visi pembangunan dengan kebanggaan lokal.
HUT ke-112, “Ngalam Melintas, Bergerak Tuntas, Mbois Berkelas”
Memasuki usia ke-112, Kota Malang menegaskan posisinya sebagai kota yang tidak hanya menoleh ke belakang pada sejarah, tapi melesat ke depan. Tema “Ngalam Melintas, Bergerak Tuntas, Mbois Berkelas” yang diusung tahun ini menjadi sebuah janji publik.
Harapannya jelas: “Mbois” tidak boleh berhenti menjadi slogan di baliho jalanan. Ia harus terefleksi dalam perilaku warga yang tertib, tata kota yang indah, hingga kemajuan teknologi dan ekonomi kreatif yang dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Mbois pada akhirnya adalah tentang karakter. Ia adalah jembatan yang menghubungkan keberanian pejuang 1949 dengan 2026. Di usia ke-112 ini, tantangan bagi Kota Malang adalah membuktikan bahwa kemajuan teknologi tidak akan menghapus jati diri. Mari kita jadikan Malang tetap ‘Mbois Ilakes’ bukan hanya karena penampilannya yang rapi dan kotanya yang indah, tapi karena warganya yang kolaboratif dan inovatif dalam menjemput masa depan. Karena sejatinya, menjadi mbois adalah menjadi berkelas dalam karya dan perilaku.” (artngalam.id)