ARTNGALAM.ID, HELLO MALANG-Di era yang serba cepat ini, Arek Malang sepertinya punya cara sendiri untuk “narik rem tangan” sejenak menjemput ketenangan. Menjamurnya kafe bernuansa alam di sudut-sudut Kabupaten Malang hingga Kota Batu bukan sekadar tren musiman, melainkan wujud kerinduan untuk kembali ke akar kembali ke suasana ndeso yang jujur tanpa polesan berlebih, salah satunya Kopi Sontoloyo sudah pada tahu kan.?
Kopi Sontoloyo: “Mbois” yang Tak Lekang Dimakan Zaman
Kita mulai perjalanan dari Bumiaji. Ada sebuah tempat bernama Kopi Sontoloyo. Sang pemilik, Cak Rinto, sukses menyulap lahan seribu meter lebih menjadi museum hidup yang sangat siob (mbois/keren). Mengambil nama dari istilah penggembala itik, tempat ini justru menjadi magnet bagi mereka yang mencari nostalgia.
Begitu masuk, mata kita akan disambut bangunan Joglo klasik dan deretan barang jadul mulai dari radio kolonial hingga motor Vespa yang masih kenceng (bagus). Sontoloyo bukan sekadar tempat nongki, tapi tempat menghargai sejarah. Kopinya pun tak main-main; mereka melakukan roasting sendiri dari biji pilihan lereng Arjuno hingga Dampit. Menyeruput kopi di sini sambil makan Sego Lodeh di pinggir sawah rasanya ilakes (sekali) mantapnya.
Pipir Lepen & Kopi Kaliurang: “Healing” Tipis-Tipis Anti Mumet
Bagi para mahasiswa yang sedang ngelu (pusing) dikejar tugas, Pipir Lepen hadir dengan konsep yang sangat anti-mainstream. Sesuai namanya, kafe ini nangkring tepat di pipir lepen (pinggir sungai). Suara air yang mengalir memberikan sensasi healing yang natural. Gak perlu kakehan cangkriman, cukup duduk diam, nikmati kopi, dan biarkan penat hanyut terbawa aliran air.
Tak jauh berbeda, Kopi Kaliurang menjadi hidden gem bagi keluarga yang ingin sarapan syahdu. Harganya sangat umak (kamu) banget maksudnya ramah di kantong tanpa mengurangi kualitas rasa dan kenyamanan suasana.
Retrorika: Estetika “Kadit” Nyampah
Bergeser sedikit, ada Retrorika Coffee Bar. Ini adalah juaranya konsep eco-friendly. Bayangkan, hampir seluruh dekorasinya berasal dari barang bekas yang didaur ulang secara kreatif. Mereka sangat disiplin menjaga alam; kadit (tidak) ada sedotan plastik atau tisu. Di sini, kita belajar bahwa menjadi mbois itu juga harus peduli pada lingkungan. Suasananya yang rimbun penuh tanaman hias bikin betah berlama-lama tanpa rasa bersalah pada alam.
fenomena kafe alam di Malang Raya ini adalah bukti bahwa sejauh apa pun kita melangkah secara digital, hati kita selalu butuh tempat untuk ‘pulang’. Kopi Sontoloyo, Pipir Lepèn, hingga Retrorika adalah oase bagi jiwa-jiwa yang haus akan ketenangan. Di sini, kita tidak hanya membeli segelas kafein, tapi membeli waktu untuk bernapas lebih dalam di antara semilir angin sawah. Ojo lali mampir, Rek.(miysah//artngalam.id)