Mahasiswa Pencinta Alam Malang Penjaga Marwah di Jalur Rimba
HELLO MALANG, ARTNGALAM.ID-Dalam dunia pendakian, ada sebuah kalimat yang dianggap sebagai “racun” tak kasat mata bagi sebuah tim. Pertanyaan itu berbunyi sederhana: “Masih jauh kah?”. Bagi telinga awam, ini mungkin hanya ungkapan rasa penasaran. Namun, bagi para senior dan pegiat alam bebas yang berpegang pada asas sosial-ilmiah, kalimat ini adalah pemicu runtuhnya benteng pertahanan mental.
Di balik dinginnya kabut pagi, Malang memiliki barisan penjaga marwah alam yang berakar kuat di berbagai universitasnya. Sebut saja nama-nama legendaris seperti IMPALA UB, Jonggring Salaka UM, IMAPALA Unmer, HIMAKPA ITN, Mapala Tursina UIN, Ranti Pager Aji UNISMA, hingga Whisnucitra Unikama. Bagi mereka, mendaki bukan sekadar urusan mencapai puncak, melainkan soal menjaga adab di rumah Tuhan.
Kenapa Pertanyaan Itu Menjadi Pantangan?
Mendaki gunung adalah ujian demoralisasi. Saat kondisi tubuh mulai terkuras, mental menjadi satu-satunya mesin yang tersisa. Ketika seorang pendaki bertanya “masih jauh kah?”, ia sebenarnya sedang menunjukkan keraguan pada kapasitas diri sendiri.
Menjatuhkan Mental Tim: Bayangkan saat Anda sedang berjuang mengatur napas di tanjakan “penyiksaan”, lalu rekan setim bertanya jarak. Jawaban jujur seperti “masih 3 jam lagi” bisa seketika membuat kaki terasa seberat timah. Fokus berubah dari langkah kaki menjadi beban waktu. Menghilangkan Esensi Proses: Mendaki adalah tentang menikmati setiap tanjakan dan tikungan. Bertanya jarak puncak hanya akan membuat kita sekadar ingin “cepat sampai”, sehingga keindahan vegetasi dan momen kebersamaan terlewati begitu saja. Hukum Alam yang Relatif: Di gunung, berlaku hukum tak tertulis: “Jaraknya selalu lebih jauh dari yang terlihat, dan kesulitannya selalu lebih besar dari yang dibayangkan.”
Seni “PHP” Senior demi Menjaga Semangat
Di kalangan Mapala pada umumnya terutama di Malang, kita sering mendengar jawaban legendaris: “Bentar lagi, di depan itu puncaknya” atau “Satu tikungan lagi sampai bonus (jalur landai).” Meski faktanya mungkin masih dua jam lagi, ini adalah teknik psikologis untuk menjaga ritme jantung dan semangat junior agar tidak drop. Ini adalah bentuk kasih sayang senior dalam balutan kebohongan putih demi keselamatan tim.
Tips Menjaga Ritme Tanpa Mengeluh
Daripada membagi keluhan, para pegiat alam disarankan menerapkan teknik fisik yang lebih taktis: Atur Napas: Gunakan ritme langkah yang konsisten (2 langkah tarik napas, 2 langkah buang napas). Nutrisi Cepat: Selipkan cokelat atau makanan ringan di kantong celana untuk energi instan. Komunikasi Positif: Ganti pertanyaan jarak dengan ajakan “Break sebentar yuk” atau “Nikmati dulu pemandangannya di belakang.” (miysah/artngalam.id)