Share

Gatot, Seniman Malang yang “Menjahit” Fragmen Dunia ke Atas Kain Perca

Gatot Pujiharto, membuktikan bahwa "pemrosesan" karya secara manual dan mendalam tetap memiliki kekuatan yang tak tertandingi. (dok.artngalam.id)

ARTNGALAM.ID, MALANG – Di era ketika teknologi mampu menghasilkan gambar dalam hitungan detik, seniman asal Malang, Gatot Pujiharto, membuktikan bahwa “pemrosesan” karya secara manual dan mendalam tetap memiliki kekuatan yang tak tertandingi. Berusia 55 tahun, Gatot tidak lagi menggunakan kuas konvensional. Ia memilih “menjahit” realitas melalui media kain perca. Baginya, setiap potongan kain adalah data visual yang membawa narasi tersendiri tentang kehidupan.

Dalam pameran Artsubs terbaru, Gatot menghadirkan karya ikonik bertajuk “Dunia Merah”. Karya ini bukan sekadar instalasi estetika, melainkan potret kekacauan nyata yang diproses melalui lapisan jahitan. Namun, di tengah ledakan visual tersebut, Gatot memberikan penyeimbang melalui dua karya terbarunya di tahun 2025, yakni “Membumi” dan “Sepenggal Waktu”. Didominasi warna putih dari kain perca dan benang, kedua karya ini berfungsi sebagai “jeda” atau fase ketenangan bagi audiens yang merenung di depan karyanya.

Perjalanan Gatot dalam menemukan identitas mediumnya merupakan sebuah proses iterasi yang panjang. Sejak masa SMA hingga awal 2000-an, ia adalah pengguna setia cat akrilik di atas kanvas. Namun, titik balik kreatifnya terjadi pada tahun 2011 ketika ia mulai bereksperimen dengan robekan kertas dan majalah. Setahun kemudian, pada 2012, Gatot secara resmi beralih ke kain perca sebuah bahan sisa yang kini menjadi tanda tangan visualnya di mata dunia.

Di studionya yang berlokasi di Jalan Tirtosari, Klandungan, Landungsari, Dau, Kabupaten Malang ini Gatot mengumpulkan, menempel, melapis, hingga merobek berbagai jenis motif kain untuk membentuk pola baru yang kompleks. Melalui proses ini, ia membawa misi edukasi yang kuat bagi generasi muda dan sesama seniman, bahwa menciptakan maha karya tidak harus menggunakan media yang mahal. Kreativitas sejati adalah tentang bagaimana kita mampu mengolah “sampah” atau bahan tak terpakai menjadi sesuatu yang memiliki nilai seni tinggi.

Meski tumbuh dan berkarya di Indonesia, “algoritma” seni Gatot justru lebih dulu terdeteksi dan bersinar di kancah internasional. Sejak debutnya di Roma, Italia, pada 2014 dalam pameran Shout-Indonesian Contemporary Art, nama Gatot terus melanglang buana. Ia sukses menggelar pameran tunggal di pusat-pusat kreatif dunia, mulai dari “Stitching Stories” di Hong Kong (2016) hingga “Beyond Image and Dreams” di Shanghai, Tiongkok (2019). Kolektor dari Asia, Eropa, hingga Amerika kini mengakui kekuatan narasi di setiap jahitan karyanya.

Hingga saat ini, Gatot terus bergerak melampaui batas usianya dengan tetap bereksperimen menambal dan menjahit fragmen kisah dunia. Visi masa depannya sangat sederhana namun bermakna dalam, ia ingin karyanya memiliki identitas yang begitu kuat sehingga siapa pun dapat mengenalinya secara instan tanpa perlu membaca deskripsi teks. Sebuah pembuktian bahwa bahasa visual, jika diolah dengan ketulusan dan ketekunan, adalah bahasa yang paling universal di dunia.(artngalam.id)