ARTNGALAM.ID-Di tengah arus wisata modern yang serba instan dan visual, Lembah Tumpang menghadirkan pendekatan berbeda, menjadikan sejarah sebagai pengalaman yang bisa dirasakan, bukan sekadar dibaca. Destinasi ini mengusung filosofi dua kerajaan besar Nusantara Majapahit dan Singosari yang diwujudkan melalui bangunan megah, arca, hingga replika candi yang membangun atmosfer masa lampau. Di sini, wisata tidak hanya soal rekreasi, tetapi juga proses “menghidupkan kembali” memori kejayaan peradaban Jawa.
Menurut Budi Santoso, Manajer Operasional Lembah Tumpang, konsep tersebut lahir dari visi pendirinya, Yogi Sugito, yang ingin menanamkan kesadaran sejarah kepada publik. “Konsepnya memang kerajaan Majapahit dan Singosari. Tujuannya untuk memberikan pemahaman bahwa kita pernah memiliki kerajaan besar yang menjadi kebanggaan,” ujarnya. Ikon utama kawasan ini adalah Candi Gito yang berdiri di pusat area, menjadi titik fokus visual sekaligus simbol identitas. Ke depan, bangunan tersebut direncanakan berfungsi sebagai museum, memperkuat posisi Lembah Tumpang sebagai ruang wisata edukatif.
Namun, di balik kemegahan itu, Lembah Tumpang tumbuh dari proses yang sangat organik. Kawasan ini awalnya hanyalah lahan kosong yang dirancang sebagai padepokan seni. Perubahan terjadi ketika sebuah kolam dibangun dan dibuka untuk warga sekitar. Antusiasme yang tinggi hingga kolam tak lagi mampu menampung pengunjung menjadi titik balik transformasi. “Awale mung kolam biasa, tapi mergo warga seneng, dadi berkembang dadi wisata,” kira-kira begitulah narasi lokal yang hidup di baliknya. Dari situ, kawasan ini perlahan berkembang menjadi destinasi wisata yang menggabungkan budaya, rekreasi, dan komunitas.
Kini, Lembah Tumpang terus berinovasi. Selain menghadirkan kolam renang dan kafe, pengelola juga rutin menggelar pertunjukan seni seperti karawitan hingga elektun yang menyasar generasi muda. Rencana pengembangan fasilitas olahraga seperti tenis juga tengah disiapkan sebagai bagian dari strategi menjaga daya tarik. Di sisi lain, aksesibilitas tetap diperhatikan melalui kebijakan harga ramah pelajar dan komunitas. Tak hanya itu, pengelola juga tengah menyiapkan papan informasi di setiap arca dan ornamen agar pengunjung tak sekadar “ndelok apike tok”, tetapi juga memahami makna di baliknya.
Bagi Budi, misi utama Lembah Tumpang tetap satu, menjaga ingatan kolektif tentang budaya. “Kita harus terus melestarikan budaya. Kalau sampai hilang, generasi selanjutnya tidak akan tahu,” tegasnya. Di tengah globalisasi yang kian deras, Lembah Tumpang berdiri sebagai pengingat bahwa masa depan bisa dibangun tanpa melupakan masa lalu bahwa kebanggaan pada akar budaya adalah fondasi identitas yang tak tergantikan.(shona/artngalam.id)