Share

Seni Rupa Adalah Salah Satu Cabang Seni Yang Fokus Pada Karya Yang Dapat Dilihat

ARTNGALAM.ID – Malang Raya bukan sekadar kota pendidikan atau destinasi wisata dingin. Di balik gang-gang sempit Mergosono hingga studio-studio modern di sudut kota, tersimpan energi besar dari para perupa yang telah mendedikasikan hidupnya demi identitas visual daerah. Mereka adalah saksi sejarah yang menolak untuk berhenti, membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal masa purna tugas.

Akar Tradisi dan Ketangguhan Generasi Tua
Bicara soal loyalitas pada seni, kita harus menundukkan kepala pada sosok Suderi. Berasal dari Mergosono, ia telah memegang pahat dan kuas sejak 1961. Bayangkan, lebih dari 55 tahun konsistensi! Suderi adalah anomali di tengah dunia yang serba instan. Ia adalah jembatan sejarah yang masih produktif hingga hari ini.

Senada dengan itu, Bambang Sarasno atau yang akrab dijuluki “Sang Empu”, membawa kita pada dimensi lain lewat 12 Lukisan Batik TITIRASI. Sejak era 70-an, Bambang telah menunjukkan bahwa batik bukan sekadar wastra, melainkan media ungkap lintas genre yang sangat filosofis. Beliau adalah guru bagi kesabaran dan integritas berkarya.

Narasi Sosial dan Eksperimentasi Teknik
Di lapisan berikutnya, Malang memiliki Gatot Pujiarto yang karyanya terus menjadi perbincangan di kalender pameran 2023-2024. Teknik “lukisan permadani” 3D-nya bukan sekadar pamer skill, melainkan alat untuk memotret kesadaran sosial. Gatot adalah bukti bahwa perupa Malang sangat progresif dan berani mendobrak batas-batas konvensional.

Begitu pula dengan Jupri Abdullah. Melalui 32 karya bertajuk “Merajut Perbedaan dalam Kebhinekaan” pada 2023, Jupri memposisikan seni sebagai alat pemersatu bangsa. Di tangannya, kanvas menjadi ruang dialog yang akomodatif bagi keberagaman Indonesia.

Dedikasi yang Tak Kenal Henti
Nama-nama seperti Dharmaaji (25 tahun berkarya) dan Yudi Hartono dengan gaya realisme modernnya, terus mengisi ruang-ruang publik Malang dengan visual yang segar namun tetap berakar. Tak ketinggalan Drajat Sigit Astomo, yang aksi heroiknya melukis sepanjang 75 meter pada HUT ke-75 RI menjadi catatan sejarah penting tentang bagaimana seni bisa merayakan nasionalisme. (ARTNGALAM.ID)