ARTNGALAM.ID, MALANG-Deru mesin kanan dan beberapa motor membelah jantung Kota Malang dalam Malang Mods Mayday 2026, Sabtu (2/5/2026). Dari Balai Kota Malang menuju Kampus STIE Malang Kucecwara (ABM Malang), ribuan skuteris berkonvoi dalam semangat solidaritas yang kuat. Bagi panitia, perhelatan ini bukan sekadar ajang pamer kendaraan.
“Bukan soal motor mahal, ini soal nyali dan solidaritas. Jalanan Malang jadi saksi, kita kerja keras, kita juga pesta keras,” ujar salah satu panitia di sela-sela acara. Berbalut semangat “Satu arah, satu acara, satu rasa”, Rolling Thunder Pesta Kelas Pekerja ini membuktikan satu hal: kita bukan geng motor, melainkan keluarga besar yang bertemu di jalanan.

Ini Adalah Tradisi Menyatu dengan Mesin
Begitu sampai di garis finis, suasana tidak melulu soal distorsi musik. Ada sisi emosional yang menyentuh saat kelompok kesenian tradisional tampil di tengah kerumunan. Dadak Merak mulai diangkat, membawa wibawa yang luar biasa, sementara Singo Barong seolah menggugah nyali siapa pun yang melihatnya.
Bagi para peserta, Reog bukan sekadar tontonan, rek. Ini adalah tuntunan dari leluhur. Saat kendang ditabuh, dentumannya terasa nyata balung rasane koyo digetarke (tulang rasanya seperti digetarkan). Ada kebanggaan tersendiri saat melihat anak muda Malang masih merawat warisan ini; bangga dadi wong Jowo, bangga warisan ini masih hidup.

Kemeriahan berlanjut hingga malam dengan penampilan bertenaga dari Begundal Lowokwaru dan kolaborasi Uncle Djink x Fahmi Aziz yang menutup acara dengan pecah. Pesta Kelas Pekerja ini berhasil menjadi ruang temu bagi berbagai kalangan, dengan 25 tenda UMKM yang turut menggerakkan ekonomi lokal sepanjang hari.(artngalam.id)